ARTIKEL

Penulis: Kristiawan, CEP, CCE, PMP

Saat ini saya bekerja di bagian Project Controls & Services - Owner Company di Qatar. Mau berbagi cerita tentang pengalaman membuat conceptual estimates di Owner Company. Untuk yang nggak familiar, conceptual estimate ini bisa dibilang metode estimasi "kira-kira" karena dibuat berdasarkan preliminary engineering, yang tentu data-nya sangat minim.

Dalam rencana investasi, di tahap "berandai-andai mau investasi", investor ingin tahu berapa perkiraan kasar biaya investasi (~biaya proyek), proyeksi income / operation cost & bagaimana prospek ekonomi-nya dibanding pilihan investasi yang lain. Kalau parameter ekonomi-nya tampak menarik, investor akan bersedia keluar biaya untuk study yang lebih detail, dan seterusnya. Di tahap ini estimator, atau cost engineer :-), menggunakan metode conceptual estimate untuk memperkirakan biaya proyek. Ada yang bilang metode ini "an educated judgement" tapi ada juga end user yang bisik-bisik ke saya bilang "do you take the number from the sky?".

Capacity Factor Method

Metode ini menghitung biaya proyek berdasarkan biaya proyek lain yang sudah selesai, yang mungkin berbeda kapasitasnya. Rumus yang digunakan: Biaya A / Biaya B = (Kapasitas A / Kapasitas B)^e. Eksponen e biasanya berkisar 0.5 - 0.85 tergantung jenis pekerjaannya. Ide dasarnya, ada non linear relationship (economic scale) antara kenaikan kenaikan kapasitas proyek dengan kenaikan biaya proyek. Maksudnya untuk kenaikkan kapasitas proyek 100%, kenaikan biayanya akan kurang dari 100%.

Suatu hari ada Project Manager yang datang ke section saya, minta bantuan untuk estimasi biaya proyek "Regassification Unit".

Kris : "Tahap engineeringnya sudah sampai mana ?"

PM : "Belum mulai sama sekali"

Kris : "Sampeyan punya data apa ?"

PM : "Ini ada data biaya proyek serupa yang sudah selesai di UK. Tapi kapasitasnya 2 x yang mau kita bangun"

Saya pikir ada gunanya juga kemarin buat presentasi tentang estimasi ke bagian proyek, jadi mereka tahu metode dan data yang dibutuhkan oleh estimator. Sebelum menggunakan rumus diatas, saya perlu membuat penyesuaian dulu terhadap data yang ada :

· Scope of work harus sama

Setelah diskusi dengan sang PM, nilai dari beberapa pekerjaan di UK yang tidak dibutuhkan oleh proyek Qatar saya kurangi.

· Penyesuaian lokasi

Biaya pekerjaan di UK tidak sama dengan biaya pekerjaan di Qatar. Jadi saya gunakan indeks dari Richardson International Factor untuk mendapat nilai equivalent jika pekerjaan di UK tersebut dilakukan di Qatar

· Penyesuaian waktu

Proyek di UK dikerjakan 4 tahun yang lalu. Jadi saya masih harus adjust lagi untuk mendapatkan nilai saat ini, berdasarkan angka inflasi Qatar selama kurun waktu tsb.

Seperti yang dibilang sang PM, proyek yang akan dibangun kapasitasnya separuh dari nilai proyek di UK. Jadi saya bisa gunakan rumus capacity factor diatas untuk estimasi biaya proyek. Singkat cerita, akhirnya, sang PM bilang "many many thanks" sebelum kabur ke higher Management untuk presentasi & minta approval agar proyek tsb bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Equipment Factored Method

Metode estimasi ini spesifik digunakan di process industry, dimana equipment list (tanpa gambar detail pemasangan) dapat digunakan sebagai dasar untuk estimasi biaya pembangunan plant - ISBL only. Berdasarkan riset terhadap berbagai proyek di process industries, didapatkan factor pengali, terhadap harga equipment, untuk memperkirakan biaya pekerjaan pondasi, steel platform, piping, elektrikal, instrumentasi, fireproofing, dst yang berkaitan dengan pemasangan equipment tersebut. Ada beberapa riset tentang equipment factor estimate, salah satunya oleh W.E Hand di tahun 1958.

Berikut contoh factor dari WE Hand untuk pemasangan exchanger.

  1. . Cost of equipment                        100%
  2. Material for field construction       100%

- foundation & paving ; 5%

- platform and supports ; 25%

- piping ; 50%

- insulation & fireproofing ; 14%

- electrical ; 3%

- Paint, clean, etc ; 3%

3. Field Labor                                    65%

- handle and set equipment ; 3%

- other construction ; 62%

Total Direct Cost (1+2+3)                  265

4. Indirect cost

approx 1/3 direct cost                        85%

Total Installation                                350%  (dari harga exchanger)

Saya didatangi oleh PM lain yang membawa conceptual study report tentang waste water reduction project, yang disusun oleh engineering consultant. Dibagian akhir report tsb ada summary table tentang opsi-opsi yang dipelajari dan perkiraan biaya-nya. Hanya one line cost estimate, tidak ada penjelasan bagaimana estimasi tsb disusun.

PM : "Kris, Management requires an internal estimate to verify these cost estimates. Can you do it for me ?"

Kris : "Can I say no to Management request ?"

Jadi terpaksa saya pelajari study report-nya. Disitu dijelaskan basic process design-nya, ada PFD yang menunjukkan jenis equipment yang diperlukan. Saya susun equipment list beserta indikasi capacity seperti yang disebut oleh report, terus saya perlihatkan ke sang PM.

 

Kris : "Can you confirm this equipment list ?"

PM : " ya ..ya .. this is more or less what we are gonna need"

Kebetulan saya punya database yang bisa digunakan untuk mengetahui harga equipment-equipment tersebut. Jadi, menggunakan equipment factored estimate method, nggak butuh waktu lama untuk buat estimasi internal thd proyek tsb.

Kris : "my estimate is 90% of consultant estimate, but it does not include modifications to existing unit - if required"

PM : "sounds good, I have a good basis to discuss with Management"

Physical Unit Method

Metode ini menggunakan luasan area / volume atau panjang dari pekerjaan sebagai dasar dari estimasi. Diperlukan historical data (existing contract rates, database) untuk menggunakan metode ini.

Suatu hari, saya didatangi oleh Facility Engineer yang membawa draft study report tentang pembangunan "Logistic Yard" yang baru. Report dari consultant itu hampir selesai, hanya bagian cost estimate & schedule yang masih harus disusun.

Facility Engineer : "Kris, I need the cost estimate urgently for inclusion in the next year budget. The deadline is coming closer, can not wait for estimation report from consultant"

Kris : "Ok, instead of paying the consultant, you can pay me for this service"

Saya baca draft report-nya, disitu ada scope of work, spesifikasi building / pekerjaan yang akan dikerjakan dan gambar lay out.

Saya buat cost estimate menggunakan physical dimensions method :

· site preparation / clearing dihitung per m2

· warehouse building (steel structure) per m2

· office building (masonry construction) per m2

· concrete paving, thickness stated,  per m2

· containment basin (reinf concrete) per m3

· asphalt road work per m2

· perimeter fence per linear m

· piping trench per linier m

· UG piping per linier m

· pekerjaan mechanical, electrical, F&G, dst.

· Detailed engineering oleh EPC contractor, dihitung sbg persentase dari construction work.

Akhirnya jadi juga estimasi biayanya, tanpa ada satu-pun detail drawing.

Demikian sekilas pengalaman dengan conceptual estimate. Untuk catatan saja, estimasi menggunakan metode ini digunakan oleh Management sebagai pertimbangan apakah proyek tsb akan lanjut ke phase berikutnya atau tidak. Sama sekali tidak dimaksudkan untuk penyusunan budget proyek. Perlu detailed engineering deliverables dan detailed estimating method untuk menyusun budget atau control baseline dari eksekusi proyek.

Jadi bagaimana akurasi dari conceptual estimates ? Menurut AACE, akurasinya antara -50% s/d +100% (bandingkan dengan detailed estimate yang akurasinya mencapai -3% s/d + 15%)

Lha modalnya cuma selembar PFD atau selembar lay out drawing kok minta estimasi akurat ... :-)

Maaf kalau postingnya kepanjangan.

salam,
Kristiawan

Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening

 

References :

  1. Skills and Knowledge of Cost Engineering - 5th edition, Scott J. Amos, AACE, 2010
  2. A Different Approach to Factored Cost Estimating, Kul B. Uppal, AACE Transactions, 1993
  3. Estimating Capital Costs from Process Flowsheets, W.E. Hand, AACE Transactions, 1958